pengisian buku tamu   kembali ke Cenderawasih Pos Online   Report abuse

namaKDP Mabby
tanggal01-03-07
pesanDengan otonomi khusus, sebetulnya terdapat indikasi juga untuk menutup Papua. Seolah Papua hanyalah benua hitam yang dihuni manusia-manusia berambut keriting dan berkulit legam, sebagaimana persepsi yang telanjur diterima oleh-mungkin--sebagian besar di antara kita. Perspektif ini juga keliru karena Papua tidaklah sehitam yang kita bayangkan itu. Cara berpikir "hitam-hitam" ini juga mulai disusupkan oleh kalangan elite Papua kepada para anak adatnya masing-masing. Dengan pola pikir itu, terlihat sekali indikasi untuk terus membawa Papua ke dalam kegelapan.

Padahal, di balik kemasan "hitam-hitam" ala UU 21/2001, sebetulnya yang dilakukan adalah upaya mengejar kesetaraan akibat kesenjangan selama ini dengan apa yang disebut sebagai penduduk pendatang. Masalahnya bukan karena hampir tidak ada orang Papua yang menjadi sopir angkot atau pelayan toko swalayan, melainkan bagaimana dengan otonomi khusus orang Papua bisa menjadi sopir taksi, pekerja bengkel, atau anak buah kapal, tidak hanya berjualan pinang dan sirih. Pengarusutamaan di bidang kesehatan, pendidikan, infrastruktur, sampai ekonomi kerakyatan yang dikembangkan lewat otonomi khusus adalah sarana untuk "mengangkat" derajat orang-orang Papua asli itu.
Laporkan

namaKDP Mabby
tanggal01-03-07
pesanIntinya, proses otonomi khusus Papua masih sebatas kertas. Itu pun belum tersosialisasi dengan baik. Impian umum masyarakat Papua belum terbentuk sebagai suku-suku yang menghuni benua besar. Pembangunan Papua, untuk itu, tidak bisa hanya dilihat sebagai pembangunan sebuah daerah otonomi khusus, melainkan pembangunan sebuah benua yang sebagian belum disentuh oleh modernisme tetapi sudah "terjajah" secara teknologis oleh informasi-informasi sampah yang dibawa televisi, telepon seluler, dan selebaran dari Jakarta. Dengan cara ini, berarti masih panjang jalan bagi Papua untuk menyeimbangkan berbagai ketertinggalannya, tetapi sekaligus terbuka peluang untuk melakukan pendekatan yang jauh dari pola-pola konvensional pembangunan yang selama ini dipakai.
Laporkan

namaKDP Mabby
tanggal01-03-07
pesanSebuah Kisah Putra Papua Asal Agadide Paniai yang Berhasil Menjadi Pilot
Sumber: kdp_mabby@yahoo.com

Mecky Fridz Nawipa (27), pemuda asal Kabupaten Paniai yang berjuang keras menjadi pilot, kini benar benar sudah tercapai. Bahkan sekarang berhasil mengantongi CPL (Comercial Pilot Licence), bagaimana ia bisa berhasil? Laporan RAHMATIA, Jayapura

Pepatah bahwa di mana ada kemauan di situ ada jalan, mungkin tepat ditujukan kepada Mecky Frist Nawipa. Bagaimana tidak, pemuda tanggung dari keluarga miskin di pedalaman Papua itu datang ke kota hanya bermodalkan kemauan dan tekad, berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi pilot. Dia sendiri telah mengantongi CPL suatu licency atau semacam sertifikat bagi pilot untuk bisa menerbangkan pesawat komersial dari pusat pendidikan pilot di Lylidale Australia pada 17 Juli 2006.
Laporkan

namaKDP Mabby
tanggal01-03-07
pesanMecky adalah alumni SMA Genyem sekarang SMA Negeri 5 Jayapura, pada 1998 dengan modal nekad ia ke Jakarta untuk mengikuti tes masuk sekolah calon penerbang di Deraya Flying School (Halim Perdanakusumah) tempat latihan bagi calon penerbang. Di sana ia ingin mengadu nasib dengan 1 tujuan bagaimana bisa menjadi pilot seperti pilot - pilot yang sering singgah di kampungnya.

Namun rupanya untuk masuk ke sekolah pilot tak semudah perkiraannya, karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untungnya kerabat dan seluruh warga di kampungnya mendukung cita cita Mecky. Untuk bisa masuk di sekolah calon penerbang itu, kerabat, tetangga hingga teman-teman Mecky mengumpulkan uang (urunan) sehingga ia bisa masuk ke sekolah itu. "Saya percaya orang orang di kampung saya semua mendukung saya, akhirnya dengan uang itu, saya bisa masuk sekolah calon penerbang," kisahnya ketika ditemui Cenderawsih Pos belum lama ini.

Dua tahun Mecky mengikuti pendidikan di Jakarta, bukan berarti Mecky sudah bisa menjadi pilot. Hal ini karena ia belum memiliki sejumlah syarat penerbangan lainnya yang menjadi syarat mutlak setiap penerbang.
Laporkan

namaKDP Mabby
tanggal01-03-07
pesanTamat di Deraya Flying School pada 2001 ia kembali ke Jayapura dan bergabung dengan MAF (mission aviation fellowship). Di sana ia bekerja sebagai louder, mencuci pesawat bahkan ikut menjadi mekanik.

"Waktu itu saya hanya ingin bekerja dengan baik hingga suatu saat saya bisa menjadi pilot," kenangnya. Mecky terus bekerja dengan tekun dan sabar, tidak hanya menjadi louder dan mencuci pesawat dikerjakannya tetapi juga mencabut rumput serta pekerjaan kasar lainnya.

Kesabaran dan ketekunan Mickey berbuah manis, di tahun 2002 ia diberi kesempatan mengikuti evaluasi terbang di pusat latihan terbang MAF di MT Haggen PNG selama 3 minggu. Di sana ia menguji kemampuan menerbangkan pesawat dan ternyata dinilai cukup baik. Kendati belum diizinkan memakai nama pilot, namun Mecky tidak kecil hati, ia terus memacu dirinya dan terus mencari jalan.
Laporkan

namaKDP Mabby
tanggal28-02-07
pesanAlhasil, di tahun 2004 cita-cita Mickey menjadi pilot terwujud. Ia dikirim ke Australia untuk mengikuti Private Pilot Licence (PPL) di Melbourne Australia selama 6 bulan. "Saya mengikuti setiap pelajaran yang diajarkan kepada saya dengan sungguh-sungguh dan tekun, karena saya tidak ingin mengecewakan siapapun," kenangnya. Lagi-lagi, meskipun sudah mengantongi PPL, namun Mecky belum dapat menjadi pilot pesawat komersial karena ia belum memiliki CPL.

Mecky bisa sekolah di Australia mengikuti PPL tak lain karena Pemda Paniai yang memahami keinginannya serta tetangga dan kerabatnya. "Saya bisa mengikuti pendidikan di Australia itu karena bantuan dari pemerintah serta kerabat dan tetangga," tuturnya. Nasibnya memang bagus, selanjutnya di awal 2005, kesempatan emas kembali menghampiri Mickey ia mendapat biaya dari Pemprov Papua (BPMD) dan Pemda Kabupaten Paniai untuk mengikuti latihan penerbangan bagi pilot komersial di Australia untuk meraih CPL. Bagaimana kisahnya ketika berjuang meraih CPL itu, ikuti kisah berikutnya.
Laporkan

namaOridek ro myos
tanggal28-02-07
pesanUtk napi kokoda smilie

Napi jang koi percaya ottis e,blanda su sepak de kluar sebab jilat indonesia pu pantalubang,de kerja dgn dana dari jerman,tp yakpibik di biak sini tra jaln dgn benar sebab wang wang dong pake utk diri sendiri,de tukang tipu e,lari dari indonesia masuk blanda,hidup tra benar,trus balik lagi ke indonesia,utk jadi mata mata ...!!!!
Mana ada org yg lari kluar,lawan indonesia baru bisa masuk lagi??? smilie booo ba ne hahahaha
smilie napi mari tongdua yospan dulu ka smilie
Laporkan

namaOridek ro myos
tanggal28-02-07
pesansmilie utk ottis simopiaref smilie
ko stop pake bendera blanda sdh,dong su lempar ko kluar e,ko di biak jadi ko pu mulut besar,padahal ko di biak saja tra bikin apa apa utk masyarakat,ko tu iblis e,yg jilat indonesia pu panta lubang,kasihan ko betul,su tua ,rambut su putih baru ko jelek lagi smilie .
mungkin ade ade,kakak kakak yg suka muncul di cepos percaya kopu kata kata ato tulisan,tapi ko tu munafik saja ee,anak anak rumput banyak ,tra punya tanggung jawab,ko tu abunawas besar..fek au smilie
Dasar tukang panipu,bikin diri tinggi padahal kosong bokar e hahahahahaha bayer au smilie
Laporkan

namaSAYA
tanggal28-02-07
Lokasiclick picture for more information
pesansambungan....

Jadi kesimpulannya, sa sebenarnya tidak menentang adanya sekolah bertaraf internasiona. Tapi juga, saya menilai bahwa yang perlu didahulukan adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas sekolah-sekolah yang sudah ada sekarang -- tambah sarana dan pra-sarana yang sudah ada dan tingkatkan kualitas guru. Juga, tambah jumlah ruang kelas (dan mungkin perlu bangun sekolah-sekolah baru lagi), agar anak-anak dong semua bisa sekolah karena daya tampung yang cukup – dengan jumlah anak tidak lebih dari 20 perkelas. Neh…, kalo dong bikin seperti yang sa pikir ini saja, sa percaya, dalam 5 – 10 tahun saja tong pu anak-anak tra akan ketinggalan dengan dong yang ada di Jawa sana!!!

Tapi kalo tong pu uang banyak, laksanakan dua-duanya: bangun sekolah bertaraf internasional dan juga perbaiki yang sudah ada. Tapi kalo uang tra cukup, laksanakan yang utama dulu, yaitu seperti yang sudah saya sampaikan di atas.


Tuhan berkati tong pu ade-ade yang sekolah dorang, dan juga sobat-sobat guru yang mengabdi untuk pintarkan anak-anak Papua.

Maju trus pendidikan di Papua!!!

Blessings,
SAYA smilie
Laporkan

namaSAYA
tanggal28-02-07
Lokasiclick picture for more information
pesansambungan....

Sa ingat waktu sekolah dulu, dalam satu kelas bisa ada lebih dari 40 anak. Sa percaya, proses belajar mengajar akan lebih baik jika dalam satu kelas itu hanya ada kurang dari 20 anak. Itu berarti, ruang kelas perlu ditambah, yang juga berarti guru (yang berkualitas) harus ditambah pula.

Pengadaan sekolah pertaraf internasional baik-baik saja, akan tetapi jika hanya ada satu sekolah seperti itu saja (atau bahkan mungkin 10 sekolah), masih belum cukup memenuhi kebutuhan tempat untuk setiap anak bisa bersekolah dengan baik. Biasanya sekolah tetap saja akan menerima siswa baru, walaupun daya tampungnya sudah terbatas, karena kalo tidak, anak itu mo sekolah di mana lagi? Itu sebabnya, anak-anak dong baku tumbuk dalam satu kelas – bikin kelas sampe padat dan tra nyaman untuk belajar. Tambah lagi kalo dong ribut, mama yoooo, guru bisa pusing atur dorang. Kalo guru su pusing, dong tra bisa mengajar dengan baik, akibatnya hanya tau marah-marah dan bilang anak-anak “goblok” saja. Nah…, jika dalam satu kelas hanya ada paling banyak 20 anak, kan lebih mudah mengaturnya toooooooo.

bersambung....
Laporkan

halaman 62 dari 543 << selanjutnya < 59 60 61 62 63 64 65 > terakhir >>