| pesan | .......lanjutan SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL
Janganlah membangun sesuatu yang baru jika yang lama tidak terurus. Di daerah pedalaman Papua sana, satu guru bisa mengajar 3 sampai 5 kelas. Di Biak, ada murid kelas V SD yang tidak bisa membaca (menurut hasil penelitian dosen Uncen, Drs. Festus Simbiak, MPd, 2001). Kasus dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang mencuat ke permukaan akhir bulan Januari 2007 lalu harus dituntaskan dulu sebelum melempar satu issue baru ke publik untuk diperdebatkan. Sehari setelah diluncurkannya rencana mendirikan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), Cepos 26 Februari 2007 memberitakan komentarnya, Kepala P&P Provinsi Papua, James Modouw bahwa ”pemerintah Papua berencana membuka pendidikan wiraswasta”. Lalu muncul pertanyaan...., bagaimana dengan nasib SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang sudah tersebar di beberapa kota di provinsi Papua? SMK di Biak masih kekurangan guru dan transportasi ke lokasi SMK tersebut tak dapat dijangkau oleh siswa-siswanya. Kalau kita hanya sanggup membangun yang baru tapi tidak memperbaiki yang sudah ada berarti kita gagal di dalam hal - belajar dari pengalaman – dan berarti pula kita hanya berfoya-foya dengan dana, tenaga dan waktu. Ketika bangun dari tidur tadi pagi, muncullah pikiran kotor di benak saya, bahwa ”issue SBI dan Pendidikan Wiraswasta (PW) hanya ditiupkan untuk mengelabuhi perdebatan publik tentang Dana BOS. |