pengisian buku tamu   kembali ke Cenderawasih Pos Online   Report abuse

namamr.X
tanggal01-03-07
Lokasiclick picture for more information
pesansElamat pAgi...

kAbar jYp dan pApua aman2 toh..!!?

sA bangga skali cePos bikin link khusus buat pErsipura....bgitu boleh..!! smilie

ok baik,, bgitu dl...

mAt brapa saja...utk koe-koe d mana anda berada...boOOohh... smilie smilie

Go..oo...o..
P E R S I P U R A

give them hell... smilie
Laporkan

namaSULIT
tanggal01-03-07
Lokasiclick picture for more information
pesanCongratulation to Mecky Nawipa...!!!

WE PAPUAN STUDENTS pround of you man!
KEEP study hard....!!!

smilie smilie




^Mrs Sulit^
Laporkan

namaSULIT
tanggal01-03-07
Lokasiclick picture for more information
pesanHay....!!!

salam kenal aja bwt purta numbay...!!!
smilie smilie

PAPUAN KEEP STUDY HARD KEY,,,, SO WE CAN IMPROVE SDM IN OUR BE LOVE PAPUA...!!!

THATS WAY WE MUST SO RESPECT TO EACH OTHER PAPUAN KEY....!!!!

GOD BLESSS WE ALL
smilie smilie smilie
Laporkan

namaSULIT
tanggal01-03-07
Lokasiclick picture for more information
pesanSelamat pagi PAPUA

smilie
sudah dr pada sibuk urus kapan indonesia merdeka atau indonesia belum pernah merdeka sama skali..........

kam org2 papua study hard sudah,,,syapa taw tong semua bisa plng bangun tong pu tanah papua k....!!!!
trus mungkin bisa tingkat kan ato IMPROVE tong pux orng papua pux SDM K....!!!!

skrg Urus diri masing2 saja....!!!
tidak usa pikir yg laen2....!!!

yg penting tong orang2 papua KEEP STUDY HARD saja..... , SUPAYA bisa improve sdmx papuAN to....!!!
smilie smilie smilie

god blesss our papuan key....!!!
RESPECT AJ LAGI...!!!!
Laporkan

namaPutra Numbay
tanggal01-03-07
Lokasiclick picture for more information
pesanDisebuah kelas bertanyalah seorang guru kepada seorang murid SMA A3 IPS.
Guru : Kapan Indonesia merdeka?
Murid : Indonesia tidak pernah merdeka.
Guru yang agak bingung betanya kepada muridnya lagi, lalu 17 Agustus itu hari apa?
Murid: Hari berkumpulnya orang Indonesia untuk merayakan hebatnya Soekarno cs, yang memanfaatkan kekalahan jepang dalam perang dunia kedua sebagai momentum untuk bersatu dalam satu wadah yang disebut Indonesia. Guru; lalu apakah itu bukan momentum kemeredekaan Indonesia?
Murid: Indonesia belum merdeka, karena buktinya sampai 60 tahun lebih seperti usia orang dewasa Indonesia masih dijajah oleh China dalam bidang Ekonomi, dijajah oleh Jepang, Amerika,dan beberapa negara Eropa dalam bidang tekhnologi dan pendidikan, masih dijajah oleh Arab dalam bidang agama, dan lebih lagi dijajah kemiskinan yang tidak berujung pangkal, semua ini membuat kemerdekaan 17 Agustus hanyalah sebuah momentum untuk memperingati hari kemerdekaannya soekarno sebagai orang pintar yang pernah sekolah diBelanda, tetapi Indonesia sendiri tidak pernah merdeka karena tidak ada Indonesia yang pintar seperti Soekarno dan Hatta.

Kemudian dari sudut kelas seorang anak Papua berkata, kalau Indonesia sendiri belum merdeka bagaimana mungkin mereka mau memerdekakan rakyat Papua yang memiliki sumber daya alam yang kaya luar biasa tetapi miskin dalam sumber daya manusia.

God bless Papua
Laporkan

namakusme aifat
tanggal01-03-07
Lokasiclick picture for more information
pesanCongratulation to Mecky Nawipa for your CPL.
We all pround of you man! Keep on rocking!

Regards,
Kusme Aifat
student at MAE Department
Florida Institute of Technology
Melbourne, Florida
USA
Laporkan

namaKDP Mabby
tanggal01-03-07
pesanMembangun Benua Papua
Sumber: kdp_mabby@yahoo.com

Kegagalan pengentasan masyarakat miskin di Papua selama ini barangkali lebih karena perspektif sempit yang digunakan Jakarta. Papua hanya dipandang sebagai suatu daerah, sebanding dan sejajar dengan daerah lainnya. Jumlah penduduknya yang sedikit dan tanahnya yang luas, serta dananya yang besar, sudah dianggap sebagai indikator utama keberhasilan. Indikator itu membuat pemerintah berpikir: makin besar dana untuk Papua, dengan sendirinya makin tinggi tingkat kesejahteraan dan pendapatan orang Papua.

Cara berpikir ini tentu tidak keliru. Namun, tanpa melihat konteks dan lanskap masyarakat dan kondisi alamiah Papua sebagai faktor pendukung, atau bahkan faktor utama, hal itu akan menimbulkan implikasi serius. Otonomi khusus Papua memang datang untuk mengantisipasi kemerdekaan teritorial dan politik yang disuarakan sebagian masyarakat Papua, terutama di pegunungan dan perbatasan Papua Nugini. Suara itu begitu nyaring, diiringi tarian perang, pengibaran bendera, dan nyanyian O Tanaku Papua. Jakarta, yang mengalami delegitimasi politik pasca-lengser keprabon, menyambutnya dengan rumusan-rumusan politik pemerintahan baru.
Laporkan

namaKDP Maggy
tanggal01-03-07
pesanNamun, setelah Undang-Undang Nomor 21/2001 tentang Otonomi Khusus Papua berlaku, semua persoalan seolah bertumpu pada undang-undang itu. Di sinilah paradoks pertama muncul, betapa penyusunan dan pengesahan sebuah undang-undang atau peraturan dianggap sebagai penyelesaian banyak persoalan. Padahal secara kasatmata dapat diukur apakah tingkat kesejahteraan penduduk Papua menjadi lebih tinggi, atau malah lebih rendah, setelah otonomi khusus dijalankan. Data-data kasar tidak menunjukkan itu. Kelaparan masih melanda, kerusakan hutan kian parah, dan semakin sulit menemukan produk lokal yang asli dan berkualitas. Memang, lebih banyak jabatan politik dipegang oleh orang asli Papua, tetapi juga makin sedikit peluang ekonomi yang gagal digarap dan dikembangkan.

Belum selesai Yahukimo dilanda kelaparan tahun lalu, lalu para pengungsi di Distrik Yamo Puncak Jaya tahun ini mengalami kesulitan makanan, Jakarta malah dilanda banjir. Sementara banjir di Jakarta tiba-tiba secara detik per detik ditayangkan dan dilaporkan ke seluruh khalayak, bagaimana dengan kelaparan di daerah-daerah miskin, marginal, dan tidak terjangkau oleh jaringan reporter televisi atau koran? Adakah tangan-tangan kuat yang mengulurkan bantuan, atau malahan tangan-tangan kurus yang langsung lunglai karena kehabisan tenaga?
Laporkan

namaKDP Mabby
tanggal01-03-07
pesanBarangkali inilah bedanya. Karena Anda jauh dari Jakarta, Anda miskin, Anda buta huruf, atau anak-anak Anda berperut buncit, Anda tidak berhak mendapat perhatian. Kalaupun perhatian ada, lantas segala kerumitan itu disampaikan kepada pejabat dengan nada tinggi, Anda dinilai provokator yang tidak paham tentang orang Papua. Atau karena Anda adalah seorang petugas kesehatan yang menghuni pedalaman Papua, Anda hanya dinilai sebagai angka.

Bahkan pidato awal tahun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menyebut soal Papua meletakkannya sebagai masalah politik dan keamanan. Barangkali hal itu karena pendekatan ala Jakarta adalah dengan membentuk Desk Papua yang berada di bawah koordinasi Kantor Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan. Sepanjang Papua diletakkan sebagai masalah politik dan keamanan, tujuan utama otonomi khusus Papua yang meletakkan pada segi kesejahteraan penduduk akan sulit dicapai. Selalu saja perhatian berlebih akan diberikan kepada satu tembakan (oleh siapa pun) ketimbang kepada satu nyawa melayang karena kelaparan. Perhatian berlebih atas tragedi di Abepura tahun lalu, ketimbang kelaparan di Puncak Jaya tahun ini, menunjukkan hal itu.
Laporkan

namaKDP Mabby
tanggal01-03-07
pesanPadahal, sekali lagi, Papua adalah sebuah benua yang tertanam kukuh di lautan Pasifik. Meletakkan persoalan Papua sekadar urusan para anggota TNI dan Polri, serta birokrasi pusat, adalah cara berpikir yang sempit. Bandingkan negara tetangga Provinsi Papua, yakni Papua Nugini, yang diurus oleh organisasi setingkat negara karena memang telah menjadi negara, dengan Papua yang diurus oleh jajaran birokrasi lokal yang kurang disokong oleh aparatur pemerintahan pusat dan organisasi pemerintahan pusat lainnya. Bukan soal Papua Nugini adalah sebuah negara sehingga tidak layak dibandingkan, tetapi letak soalnya lebih pada cara mengelola Papua.

Kalau Papua Nugini harus mendatangkan sejumlah pasukan asing untuk menjaga keamanan, termasuk mengendalikan tribalisme, Papua sebetulnya lebih beruntung karena masih memiliki banyak saudara sebangsa dan senegara yang berasal dari beragam suku bangsa. Ruang terbuka bagi Papua masih luas. Sebagai masyarakat terbuka, Papua memiliki potensi untuk berkembang dan maju. Potensi-potensi itulah yang belum banyak digali sehingga menimbulkan kecemburuan terus-menerus di hati masyarakat dan elite Papua.
Laporkan

halaman 61 dari 543 << selanjutnya < 58 59 60 61 62 63 64 > terakhir >>