| pesan | Om jhon pu analisa memang tepat! sa stuju. sa mo tambah sdikit saja. Begini... Otsus su berjalan 3 Tahun! tapi knapa keluarga miskin di Papua masih ada ratusan ribu? trus, dana pemberdayaan masyarakat tuh kemana?, termasuk dana BOS untuk PENDIDIKAN (prioritas Otsus).Ini lucu skali. Mana bebas biaya sekolah yang digembar-gemborkan dalam Otsus? sampai detik ini, biaya skolah masih sangat mahal! sa pu analisa bodoh tuh begini. Otsus ditolak, Internasionalisasi masalah Papua menguat. Masyarakt Papua sengaja 'diarahkan' utk tdk konsentrasi dengan masalah itu. Ada gula-gula lagi dari pemerintah. Pikir perut dulu, mumpung ada uang gratis dari Pemerintah punya saku yang mau dibagi-bagi. Kalo mau dikalkulasi secara riil, BBM naik 2 kali lipat, harga barang di Papua naik antara Rp 1000-3000, trus apakah dana kompensasi 100 ribu/keluarga/bulan itu cukup? apalagi dana itu diambil tiap 3 bulan . Pertanyaan lain! Kategori orang Papua miskin tuh apa? tidak punya mobil? tidak punya HP? hidup dibawah kolong jembatan? ditempat kumuh? walau di pedalaman, orang papua tetap hidup nyaman kok, bisa makan cukup, bisa bekerja kebun, cari ikan, berburu. yg sakit-sakitan tuh justru orang yg hidup di kota. banyak polusi, lingkungan kotor dan rusak, moral juga rusak ( Maaf e, yg tinggal dikota, saya hidup dikampung jadi..).semestinya, moral yg 'miskin' itu yg dikasi 'kompensasi Iman' yg cukup, biar kalo mati, masuk surga!
salam |