| pesan | Mr Been, Iman itu memerlukan praktek. Si Yakobus, mengatakan demikian :" Aku akan menunjukan kepadamu Perbuatan Imanku -alias Iman tanpa perbuatan adalah mati."
Yakobus adalah sdr Yesus yang mati tahun 40 masehi di Bait Allah Yerusalem, akibat dipukul dengan tongkat pada otaknya, karena ia menolak ketika dipaksa untuk menyangkali ke-TUHAN-an Yesus oleh para Sanhendri.
Fokus iman itu adalah Allah. Kita mempercayai dia sebagai awal dan akhir kehidupan ini. Bahkan kita bergerak dan 'ada' di dalam Dia. Segala hal yang kita lakukan diketahuinya.
Praktek iman bukanlah kepada Tuhan -- seandainya seluruh dunia Ateis pun, ia tetap Tuhan semesta Alam. Iman haruslah dipraktekan terhadap sesama kita, umat manusia. Terhadap anak kita, istri kita, adik kita, kakak kita, tetangga kita. Bahkan terhadap hewan dan tumbuhan. Mereka haruslah melihat iman kita.
Iman kita akan hancur bila tak dipraktekan. Allah menuntut perbuatan. Kekristenan di Papua hancur dan para pendetanya mengejar kekuasaan ( bahkan mau merubah AD/ART Gereja agar menjabat terus ), karena praktek iman mereka tak ada. Yang ada adalah praktek 'pelacuran' lembaga gereja dan penguasa demi kekuasaan.
Mereka takut membela manusia, yang diciptakan segambar dan serupa dengan Khaliknya, yang adalah tugas utamanya. Mereka suka bersembunyi di balik ritual doa dan dogma agama. Dan membiarkan manusia mati dihadapan mereka. Karena itulah umat gembalaanya lari dari gereja-nya, dan meminta perlindungan pada negara lain |