| pesan | Hormat buat sobat semua,
Menarik sekali diskusi kali ini tentang “menjaga keaslian Papua”. Saya berpendapat bahwa apa yang semua saudara sampaikan benar, tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Ada baiknya kita menjaga “keaslian” Papua secara fisik, akan tetapi terlebih baik jika kita mencintai setiap orang tanpa memandang muka.
Sa punya beberapa saudara kandung, beberapa dari mereka memilih untuk berkeluarga (married) dengan orang “asli” Papua, tapi beberapa dari mereka memilih untuk menikah dengan orang dari luar Papua. Walau beberapa dari sa pu ipar dorang bukan orang Papua asli, dong pu hati baik sekali, sebaik sa pu ipar yang asli Papua. Dong semua mengasihi dong pu keluarga, dan juga sa pu keluarga besar. Bukankah itu yang terpenting??
Lagipula, berbicara tentang “keaslian”, adakah budaya di muka bumi ini yang benar-benar asli ? Bukankah budaya itu selalu berubah? Jangankan budaya yang berkaitan tentang cara berpakaian, makanan, tarian, nyanyian, dan kebiasaan lainnya, yang namanya “bahasa” pun berubah. Misalnya saja keberadaan bahasa Inggris -- bahasa Inggris yang sekarang (Modern English) dan Early Modern English berbada dengan Middle English, bahkan lagi, jauh berbeda dengan Old English.
bersambung........ |