| tanggal | 20-09-05 |
| pesan | to nelly.krb Saya tahu bahwa memang banyak anak Papua yang cinta minuman, namun bisakan nona nelly sebutkan beberapa anak papua yang juga cinta belajar dan bekerja keras? Saya mau saran buat nona, kita ini dalam hidup ada banyak hal yang kita buat, entah baik dan salah. Saya pribadi minta nona bukan saja komentar namun juga kasih solusi... memang banyak terpanggil tapi sedikit terpilih, mereka itu melakukan itu sebenarnya bukan karena mereka mau tapi banyak faktor,bisa saja pendidikan, penghasilan, dasarnya itu ekonomi. Kami banyak anak papua yang sedang giat belajar pada bidang kami masing-masing. Jangan katakan bahwa semua anak papua harus giat, 25 orang saja sudah cukup untuk berpikir untuk Papua.. Masalah merdeka dan tidaknya itu relatif.. kita ini punya hak untuk mo bilang saya otonomi dan saya mau merdeka dalam negara demokrasi. Masalah siap dan tidaknya itu urusan kedua... sama saja macam nona disuatu acara yang spontanitas disuruh memberikan sambutan, mungkin pertama kali anda gugup, namun itu pelajaran paling berharga dan yang tak mungkin akan salah sebagai modal anda untuk tampil pada event berikutnya.. Nona kalau mau berkembang cara berpikir kamu, saya saran begini, kalo nona buat 9 kesalahan dan 1 kebaikan, yang nona lakukan adalah melihat kebaikan nona dan berkata itu belum cukup, saya bisa berbuat lebih dari itu.. klo nona lihat 9 kesalahan.. nona akan maju dengan rasa kuatir akan kesalahan yang akan terulang.. itu dari saya MOLOMOLOGURITA! |
| tanggal | 20-09-05 |
| pesan | Dengan demikian, membicarakan Papua merdeka, janganlah kita pertentangkan dengan pembangunan. mereka adalah dua hal yang berbeda. Kita berbicara merdeka, bukan karena tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik, pendidikan yang layak, dan berbagai macam program pembangunan lainnya. Atau karena kita tidak bertindak sebagai 'manusia sejati' - memukul isteri di rumah ( Meski pun hal2 ini pun penting untuk dibicarakan juga ). Namun, karena kita membicarakan 'KEBENARAN' Biarlah kita mengingat kalimat ini. bersama dengan berbagai orang di belahan dunia, mulai saat ini, saya pun berdiri di barisan orang dari seluruh dunia, yang mendesak agar Pepera 1969 di West Papua agar ditinjau ulang ( surat Uskup Desmon Tutu , 23 Febuari 2005 ) |
| tanggal | 20-09-05 |
| pesan | Yang menjadi persoalan sehari - hari, pada tahun 1935, dengan konteks Hindia Belanda, saat itu adalah perjuangan untuk meningkatkan gaji buruh perkebunan dan pelabuhan. pendidikan, irigasi yang layak bagi petani,etc ( berbagai persoalan sehari - hari ). Soekarno membela dirinya, dengan tulisan ini, bahwa ia, membicarakan Indonesia Merdeka -- saat itu -- bukanlah sesuatu yang sia2 adanya. Atau sebuah kata - kata kosong belaka, yang tak ada bukti riil ( baca : uang ) untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Namun, Kemerdekaan dan Pembentukan Negara Indonesia, merupakan sebuah jembatan terbesar agar rakyat Indonesia memenuhi hal ini -- yang disimpulkan dengan nama 'marhein'. Jadi, tidak ada pertentangan di dalam kedua hal ini. Justru mereka saling mendukung. Salam Ikan Puri |
| tanggal | 20-09-05 |
| pesan | Sonder perjuangan untuk persoalan sehari - hari, sonder pula Indonesia merdeka ( Soekarno, Di bawah bendera Revolusi I ) . Kalimat yang diucapkan Soekarno pada tahun 1935 ini, saya tampilkan kembali, agar kita semua sadar, betapa erat-nya, rumah tangga yang harmonis, kedisiplinan penggunaan waktu, ibadah, senyuman dan tegur sapa sesama warga Papua, di dalam menentukan arah perjuangan. Bahwa kegiatan 'sepele' sehari - hari menentukan apakah Papua merdeka atau tidak. Dengan demikian, apakah kita harus meninggalkan Perjuangan Papua Merdeka, dan mengfokuskan perhatian kepada kkegiatan untuk meng-ada-kan dan memperjuangkan 'manusia sejati' ? TIDAK. Papua Merdeka -- untuk memiliki sebuah negara sendiri -- harus tetap dibicarakan, berapapun harga yang dibayar untuk itu. Dan terus terang, saya bersedia membayar harga-nya, dengan jalan berjuang, 'sesuai dengan karakter kepribadian' saya. Salam Ikan Puri |
| tanggal | 20-09-05 |
| Lokasi | |
| pesan | To aish ko tngg sa plng k JPR br nnt sa yg jd striker u/ PERSIPURA. ![]() |
| tanggal | 20-09-05 |
| Lokasi | |
| pesan | cepos harus tetap mengedepankan objektifitas pemberitaan. ![]() |
| tanggal | 20-09-05 |
| pesan | Disini(USA) kita tahu bahwa jangankan orang yang tak punya rumah (homeless)saja bisa mendapatkan hak hidup dari pemerintah dengan jaminan kebutuhan apa adanya, seekor burung diudarapun dijamin haknya untuk hidup dengan aturan yang jelas. tetapi di negara demokrasi Indonesia?, jangankan satu orang,ribuan manusia papua mati dibinasakan oleh aparat keamananpun tidak menjadi persoalan. itu adalah bagian dari nasionalisme yang harus dibanggakan. Yang terakhir,Kalau nona padaido bisa sempatkan waktu untuk tinggal lebih lama di jawa saja, anda akan melihat dan merasakan bahwa orang kristen bukan bagian dari NKRI. Dan the last but not least,untuk nona manis dari padaido, anda harus tahu bahwa Indonesia sekarang sedang mempersiapkan diri menjadi negara islam Indonesia terbesar dengan menggantikan semua pejabat2 penting yang beragama lain dan ditempati oleh semua kader islam dari latar belakang HMI. Dan yang terakhir, kalau bicara Indonesia jangan hanya lewat tulisan orang tetapi coba tengok secara langung. Begitu loh, my beloved sister. I hope someday we'll meet each other. |