| pesan | Hi Diva,
Sa pikir ko ada benarnya juga, tong harus berbenah diri.
Tapi sa pikir masih ada pemikiran yang salah dari orang-orang yang berasal dari suku-suku lain (walau tidak semua orang) di luar Papua; sapa yang tra tau kalo dong masih menganggap tong orang Papua bodoh?? -- coba tanya dorang saja -- kalo dong jujur, pasti dong akan mengaku demikian.
Selain itu, ada dari dorang yang menilai tong orang Papua rendah karena tong hitam, dan keriting -- Kalo mo jujur itu yang dong pikir -- dong pikir kulit PUTIH dan RAMBUT LURUS itu lebih menarik dan bernilai/berharga.
Sa tahu hal itu dengan persis!!! Sa tra tau Diva ko orang apa, tapi kalo ko bukan orang Papua, sa percaya apa yang sa bilang ini benar -- Cek ko pu hati sendiri dan coba untuk jujur, pasti ko akui apa yang sa baru bilang ini BETUL.
Tapi tra usah kuatir, sa tra benci dorang mooo..., sa mengasihi dorang.
Nah, hal di atas merupakan apa yang sebenarnya (banyak) orang Papua rasakan. Padahal tong pu kekayaan diambil, namun tong diabaikan. Karena apa?? Karena tra dianggap bernilai. -- Bahkan karena dianggap tak bernilai itulah, banyak dari tong pu saudara yang dibunuh.
Tapi tetap, saya mengampuni (bukan berarti sa setuju dengan ketidakadilan yang terjadi).
BTW, Diva ko lulus dari SMUNSA tahun 97 Ka?? Berarti tong dua satu angkatan. Wish I knew who u r.
Peace and blessings be with u. |